Senin, 23 Mei 2016

Berkendara adalah Seni, Seni mengendalikan Emosi

Sore ini, kupacu kendaraanku dari arah banta-bantaeng menuju Bratachem di Jalan. Cenderawasih. Melalui jalanan padat Banta-bantaeng menuju Jl. Veteran yang hanya kurang lebih 200m sudah cukup menguras emosi, jalanan padat, pengendara yang seenaknya dan ank-anak yang berseliweran dengan telinga yang nyaris tidak mendengar bunyi klakson sekeras apapun kita menekannya.

Well, emosi masih harus teraduk ketika di tempat mutar pak Ogah bukannya membantu malah menambah macet  dengan seenaknya berdiri pas di moncong mobil, yang mestinya ketika memutar kemudi full sudah bisa lewat tetapi karena terhalang dirinya yang bila dipaksakan pasti mengenai tubuhnya.

Masuk ke arah Jl. Singa, Emosiku kembali berjumpalitan dengan iringan anak yang entah dari mana yang dengan nyantainya berdampingan berjalan memenuhi nyaris separuh badan jalan tanpa peduli dengan lengking klakson padahal di sebelah kiri mereka bahu jalan cukup luas bahkan untuk memarkir mobil seukuran bus kecil pun muat tetapi kalian kok memenuhi badan jalan sih nak...

Tarik nafas dalam-dalam, yang waras ngalah. Menyusuri Jl. Kakatua kembali emosi harus ditekan hingga batas terdalam, sepasang muda mudi yang mungkin lagi dimabuk asmara, mengendarai motor dengan begitu pelan, sayangnya pelannya di tengah-tengah, kita yang ada di belakangnya bingung antara mau mendahului dari arah kirinya tidak muat, ke arah kanannya cukup padat.. oalahh nddukk. Dunia memang hanya milikmu berdua, pun jalanan ini.

Kembali dari Bratachem, kejadian berulang. Motor yang dikendarai sepasang muda-mudi harus membuatku bersabar mengkutinya, sejatinya saya berniat belok kiri kembali ke arah Kakatua, tetapi genggaman setir pengendara di depanku yang hanya satu tangan yakni tangan kanan alhasil membuat laju motornya agaak zigzag, dan saya ragu untuk mendahuluinya dari salahsatu arah karena sepertinya pengendara tidak konsen dengan jalanan, konsennya ke boncengan. Di depan BNI saya merasa ada celah untuk mendahuluinya dari arah kanan, ealahh kamprett tiba-tiba pengendara membanting motornya ke arah kanan, memotong laju mobil yang saya kendarai dan sukses membuatku harus mengerem mendadak sebelum akhirnya belok kekiri ke arah Jl. Kakatua.

Emosiku ternyata masih teruji di Jl. Veteran, dari arah jalan Macan seorang ibu tiba-tiba memotong full ke kanan, tanpa weser dan tanpa peduli kendaraan yang ada di belakangnya. Fortuner di sampingku refleks berhenti ketika moncongnya nyaris mencium motor si ibu, melewati moncongku yang juga harus menekan rem.

Terakhir, pas di depan kantor weser sudah dari jauh dinyalakan untuk meminta jalan ke arah kanan masuk gerbang kantor, ketika mncong mobil sudah berbelok ke kanan dari arah depan sebuah pickup tanpa mengurangi kecepatan seolah tidak ingin memberi jalan, saya memilih mengalah dengan menekan pedal rem, mungkin dia masih bisa lewat tetapi jarak yang sangat mepet bila dia memaksakan untuk masuk memaksanya menginjak rem untuk membiarkanku lewat. huhhh..

Ahhh berkendara memang seni, seni menahan diri, seni mengendalikan emosi dan seni mengatupkan rahang untuk tidak memaki ^_^



0 komentar:

Posting Komentar