Selasa, 01 November 2016

Mati Itu Pasti, Maka bersedihlah..

Kematian, sungguh adalah rahasia Ilahi. Tidak ada daya dan upaya untuk menghentikannya, meski hanya sejenak. Kematian adalah sunnatulloh yang pasti, bagi setiap makhluk yang bernyawa. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS. Al-Ankabut 57 "Tiap-tiap diri (sudah tetap) akan merasai mati, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Kami (Untuk menerima balasan)."

Kematian selalu menyisakan kepedihan, terutama kematian orang terdekat baik keluarga, sahabat teman maupun saudara. Dan kematian suami adalah sungguh menyakitkan bagi istri dan juga anak yang ditinggalkan.
Ada banyak cara yang dilakukan oleh orang yang ditinggal pergi, sebagai ungkapan kesedihan.

Allah SWT begitu memperhatikan perkara kematian, hingga Allah SWT menyampaikan perihal kematian dalam QS. Al-Baqarah 2:234 "Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis masa ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat"

Berkabung dalam Bahasa Arab adalah Al-Ihdaad dan al Hidaad yang diambil dari lafadz Al-Haddu, artinya  menahann atau melarang.
Secara istilah, Ihdaad  diartikan keadaan dimana seorang wanita dilarang untuk berhias dan melakukan semua hal yang dapat menarik hassrat lelaki lain untuk menikahinya , dalam rangka berkabung atas meninggalnya suaminya.
Pendapat lain mengatakann al-hadaad aadalah sikap wanita yang tidak mengenakan segala sesuatu yang dapat menarik orang lain unntuk menikahinya seperti minyak wangi, celak mata dan pakaian yang menarik dan tidak keluar rumah tanpa keperluan mendesak, setelah kematian suaminya.
Rasulullah menekankan perihal berkabung untuk perempaun yakni tidak lebih dari  tiga hari kecuali untuk kematian suaminya.

Sabda Rasulullah SAW "Tidak dibolehkan bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkabung atas suatu kematian lebih dari tiga malam, kecuali terhadap kematian suaminya, maka masa berkabungnya empat bulan dan sepuluh hari. (HR. Bukhari dan Muslim)
Penjelasan:
Kematian ayah, ibu, saudara dan yang lain selain suaminya, masa berkabungnya tidak boleh melebihi tiga hari." 

Demikian Islam memberi tuntunan untuk melampiaskan kesedihan, maka ketika kematian menyambangi orang yang dicintai, bersedihlah. Menjerit, Memukuli diri, meratap dan lain sebagainya adalah hal yang dilarang sebagai ungkapan kesedihan. Menangis tanpa meratap adalah boleh, karena Rasulullah SAW pun menangis ketika meninggalnya Ibrahim, anak lelaki beliau dari Maria Qibthiyyah.
Anas bin Malik r.a. berkata :Kami masuk bersama Nabi pada Abu Saif al-Qain (si pandai besi), suami wanita yang menyusui Ibrahim (anak laki-laki Rasulullah dari hasil perkawainan Beliau dengan Maria Qibtihiyah). Lalu, Rasulullah mengambil Ibrahim dan menciumnya. Sesudah itu kami masuk kepadanya dan Ibrahim mengembuskan napas yang penghabisan. Maka, air mata Rasulullah mengucur. Lalu Abdurrahman bin Auf berkata kepada beliau, ‘Engkau (menangis) wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Wahai putra Auf, sesungguhnya air mata itu (tanda) kasih sayang.’ Kemudian air mata beliau terus mengucur. Lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya air mata mengalir, dan hati pun bersedih. Namun, kami hanya mengucapkan perkataan yang diridhai oleh Tuhan kami. Sungguh kami bersedih karena berpisah denganmu wahai Ibrahim.‘” (H.R. Bukhari)

Sesungguhnya tangisan yang mengakibatkan murkanya Allah adalah tangisan yang disertai umpatan, ratapan dan perkataan yang mengakibatkan kekufuran pada Allah SWT.

Bagi perempuan, menahan dirilah selama 4 Bulan 10 hari, dan tetaplah dalam rumah tempat suamimu menghembuskan nafas terakhirnya, kecuali keluar karena udzur syar'i.

pertanyaannya, Bagi perempuan bekerja apakah masuk kantor setelah beberapa hari kematian suami adalah termasuk udzur syar'i?

Wallahu a'lam. Tetapi semoga Allah mengampuni apabila  keterpaksaan untuk menjalani kewajiban sebagai perempuan bekerja, ternyata mendurhakai perintah Allah SWT. 

Kesedihan karena kepergian orang terdekat, saya yakin tidak berbatas waktu. Seiring waktu, luka pasti akan mengering, namun tidak berarti tanpa menyisakan perih. Selalu dan selalu, nyeri itu akan menyapa, kapanpun kenangan kebersamaan itu muncul. 

Bersedihlah, dan ikhlaskan.





Mirajnews.com (sumber gambar)


Dari beberapa sumber :
1. https://seteteshidayah.wordpress.com
2. https://almanhaj.or.id
3. www.moslemforall.com
4.https://abuhauramuafa.wordpress.com
5. http://akuislam.com

4 komentar:

  1. bagi org beriman kematian itu bukanlah suatu kesedihan ..............

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetapi sebagai perempuan yang ditinggalkan, kesedihan tetaplah pasti ada.. Terimakasih sudah mampir pak Ahmad.

      Hapus
  2. Ikhlas akan menghapus kesedihan yang mendalam.
    Rasa sedih ketika di tinggal orang yang sangat di cintai, itu adala manusiawi. Sebab, Rasulullah pun pernah bersedih dan menitikkan airmata ketika cucunya meninggal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah, semoga semoga kesedihan ini bukan karena tidak ikhlas. Syukron sudah mampir pak Mustafa Zain

      Hapus