Selasa, 23 Mei 2017

Tulisan lepas Bersama Kopi


Kusesap pahit dari kopiku,
Ketika lekikku sandera tatapmu,
Sungguh tiada maksudku,
Mohon maaf untuk istighfar yang harus terucap
Lirih kulangitkan permohonan ampun
Untuk laku yang tak pantas.
Dan ketukan itu,
Biarkan sang pemilik hati membuka pintunya
Karena jika takdir tertulis demikian
Sesumbar pun  takkan mengubahnya di lauh Mahfudz.

___ ***___

KOPIMU untuk SIAPA
Oh Tuhan Ilahi Rabbi,
kau cipta kopi untuk yg bisa bikin puisi, agar rasa menggerak hati,
hati menggerak raga,
merangkai kata menitip makna,
bisa terbaca jika hadir sebagai pencinta.
Ilahi Robbi, aku tunduk sebagaimana tunduknya kopi,
pasrah diwarnai gelap,
tapi selalu setia utk memberi rasa, mematri menjaga cipta karsa...
Oh Tuhan, Ilahi Robbi,
Akhirnya aku lapor diri
Jatuhku berjarak laut
Ijinkan kusiapkan bahtera
Selanjutnya ku ikut arusMU
Aku runduk apapun siapapun...

___ *** ___

Berhadapan dg simpul yg membalut hatimu
Aku ragu untuk menarik salah satu ujungnya
Andai kusut tentu hatimu terkunci
Sementara aku lelah berteriak di depan pintu :
Dik! Tunjuki aku ujung kata, detak rasa, dan jiwa
Agar irama mengalirkan RASA sedalam-dalamnya


___ *** ___

Jangan gesa jatuhkan diri,
Ketika sekejap pandang tertahan,
Kecamuk tanyaku berbisik,
Semudah itukah engkau terjatuh?
jarak laut berbilang mil, menyimpan badai bukan tak mungkin,
Sangsiku bahteramu sanggup menahan tanya,
Yang menerpa hingga buritan.
Tetaplah di sana,
Jika ragu melintasi hatimu,
Ragu hanya buatmu urung melangkah,
Meski pintu terpentang lebar


____ *** ____
Duh..gemetar aku...pdhal sdh kuintip lama adakah lupa kali pertama ku menyapamu. .
adapun lesung lekik pipi sebagai parpurna rasa...
meski pelabuhan dah di depan mata tetap saja blum sampai...
tetap kurawat sabar...
sabar yg meniti...
bukan sabar berhenti.....
tapi adakah ruang dermaga utk bahtera yg akan berlabuh ini.....
meski waktu tetap membilang

___ *** ___

Kenapa kau hendak tahan laju
Biduk yg telah berkembang layarnya
Sedang kau pernah cerita
Luasnya laut
Ganasnya angin
Atau kau takut kalah
Beradu lagi dengan gelombang
Yang pernah kau taklukan?


__ *** ___

Seyogyanya demikian,
sapa hanyalah pembuka dari interaksi yang bermula,
berlanjut pada lekik yang mengembang bersama menguarnya aroma kopi,
cukupkah untuk kuch kuch Hota hai?

Jangan, jangan meminta ruang, pada dermaga yang merapuh,
bertahan dari terpaan ombak untuk sandaran 2 perahu kecil dengan tali sabut,
jangan hadirkan riak yang dapat membuat talinya lepas,
demi mimpinya mengarung lautan.

Dan jangan,
jangan pernah meminta ruang untuk merapat,
jika pelabuhan utamamu masih menunggu,
kembalilah membuang jangkarmu,
lebur lelahmu di persinggahan.
Jangan mengetuk jendela yang engselnya telah berkarat,
jika telah ada jendela terbuka dengan taman di hadapmu,
karena ketika terbuka sulit untuk menutupnya kembali.


Repost from My wall, sekedar  disatukan, sayang untuk diabaikan.
Terimakasih sudah menyambungnya 'AA'

 ^_^


0 komentar:

Posting Komentar