Selasa, 26 September 2017

Dinihari, Setangkup Rasa dan Sebongkah Asa

Obrolan WA dengan seseorang sahabat (Jika saya boleh menyebutnya sahabat) sore tadi, membuka banyak pintu bilik kenangan yang pada akhirnya menghamparkan lembar perjalanan yang telah saya lalui.

Hidup, sejatinya adalah potongan mozaik. Bilah-bilah berbentuk tak beraturan yang kemudian terangkai seiring berlalunya masa. Yang kadang menjadi jelas setelah melompati waktu. Banyak peristiwa yang terangkai bukan sebagai sebuah kebetulan. Lalu, seperti sebuah irama ritmis yang menjadi alur untuk puzzle berikutnya. Ketika rangkaian itu terbaca pada masa jauh setelahnya, terkadang menghadirkan tawa tak kurang pula air mata.

Di dinihari selepas rutinitas (harusnya!) yang kadang terabai hingga berabad-abad karena lelap yang jauh lebih melenakan, sebentuk sadar menyusup perlahan. Sepahit apapun cerita kemarin ketika hati telah menerima, maka kepahitan itu bukan lagi rasa yang tidak enak. Apalagi jika menyadari bahwa kepahitan yang kita alami mungkin tidak seberapa besar dibanding kepahitan yang orang lain rasakan.

Bicara tentang rasa, ku mengingat penggal kata dari seseorang "Rasa tak bisa dihakimi".
Well sesaat saya setuju bahwa rasa memang tak bisa dihakimi. Hadir, menyusup tanpa harus membuka pintu. Namun jika rasa yang hadir itu mungkin saja akan menyakiti hati yang lain, Lalu  rasa tidak bisa dihakimi, haruskah rasa itu dipertahankan atau dinafikan?

Entah.. saat ini satu puzzle baru sementara menunggu keping selanjutnya untuk bisa terangkai. Entah puzzle berikut berarti bertahan dengan semua rasa dengan mengabaikan logika kemudian pasti menyakiti hati yang lain atau menafikan dengan pertimbangan logika yang pada akhirnya juga melukai hati sendiri.

Pada akhirnya waktu jualah yang akan menjadi teman berlari saling mengejar, dan pada satu titik puzzle itu akan nyata.

Saat ini cukup nikmati lalu bisikkan pada penguasa rasa untuk menunjukkanmu jalan menyikapi. Meneruskan dengan segala konsekuensinya atau berhenti sampai di sini kemudian Mencari puzzle lain yang mungkin lebih pas untuk melengkapi puzzle yang sudah ada. Hingga meski hatimu berbisik betapa munafiknya dirimu dengan semua balutan yang nampak di indera, setidaknya kau menemu setitik bahagia yang hanya dirimu dan Tuhanmu yang punya hak untuk menghakimi.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk dimengerti siapapun, hanya sepenggal dialog antara dua bilik hati... luve ^_*

0 komentar:

Posting Komentar