Rabu, 21 Maret 2018

Elegi Uang Panai

Di bibir pantai Pulau sejuta senja, bersama jingga yag kian hilang dipeluk malam, berteman debur ombak yang semoga membawa gelisahku menjauh. Hari hari terakhir tak lagi indah dan penuh asa. Ada gelisah yang berpagut cemas, Asa akan terburai. Mangkuk harapan yang penuh terisi, merenda hari baru bersama putri pilihan,  mungkin hanya akan menjadi kenangan.

Yahhh.. Mungkin semua akan menjadi serpih cerita yang entah akan menyisakan apa di hari esok.Jalinan kasih bergaun waktu yang tak singkat, ternyata bukan jaminan untuk dapat melenggang ke pelaminan dengan tangan tergenggam dan wajah penuh senyum serta bertabur bahagia yang  buncah.Ikrar dan Ijab kabul itu, mungkin tidak akan pernah ada. Semua mungkin hanya mimpi yang tak kan pernah berwujud nyata.

Sekarang, membayangkannya pun teramat sulit. Butuh tambahan pengorbanan bahkan untuk sekedar memvisualisasikannya di pelupuk mata yang lalu pecah dan hilang. seperti gelas kristal yang kupegang, kujaga, dan kuharap dapat kuletakkan di lemari terindah yang kupunya, tapi.. dalam hitungan detik, gelas ini akan lepas dan mungkin ditimang oleh tangan lain. ya.. bukan kristalnya yang akan pecah dan berderai, tapi hati, jiwa dan diriku yang mungkin lebur bersama sakit dan luka.Rasa yang sedemikian dalam kupupuk, sulit untuk kucabut sedemikian cepat.. bilapun tercabut akarnya terlanjur menghujam jauh ke perut bumi.

Gamang ini, hadir bersama dua kata yang begitu gampang untuk dilafaskan. "UANG PANAI"Dia, perempuan yang memenjarakan rasaku, perempuan berdarah bugis dengan adat yang melekat kuat.

Teringat guyonan seorang teman, "Besok lusa mauka menikah, tidak mauka sama orang Bugis, apalagi yang sarjana, PNS pula, Hadehhh nacekikki Uang panai'na, belumpi lagi klo Haji tommi di tambah Andi lagi, bunuhmaa pake uang panai"

Hari ini, guyonan itu menamparku telak. Menyisakan tak hanya tapak tangan dan juga samar merah di pipi, tapi menghantam jauh ke dassar hati dan jiwa. Kakiku tak lagi kokoh berpijak, tubuhku limbung menahan angin yang terbawa berssama dua kata itu. Dan perihnya, waktuku hanya sedikit untuk memenuhinya. Telah ada tangan lain yang siap  menimang kristal yang kugenggam bila uang panai itu tak sanggup aku penuhi.

Nominal banyak digit, menjadi duri yang kuinjak setiap kali melangkah. Otakku berputar bagaimana cara yang dapat aku tempuh. Aku butuh waktu, tapi sayangnya mereka tidak sudi menunggu.Selintas, cara kotor menjadi pilihan. Tapi.. apakah itu tidak menodai langkahku ke depan?Ahh, tidak siap kupertaruhkan harga diri keluarga dengan cara itu, meski banyak di luar sana yang melakukannya.

Kembali ke uang panai. begitu mengerikannya kata itu. terutama buatku saat ini. Dann tak banyak hal yang dapat kulakukan  dalam bekapan waktu yang begitu ketat. Pilihanku mungkin hanya ada 2, Jadi atau Hancur sekalian. 


#Tulisan ini lama dalam bentuk draft karena sengaja tidak dipublish. Tulisan ini atas permmintaan seorang teman yang saat itu lagi galau di jelang pernikahan. Samawa ya dear, akhirnya telah jauh kau lewati masa itu


0 komentar:

Posting Komentar