Tampilkan postingan dengan label GORESAN SINGKAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GORESAN SINGKAT. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 November 2017

Pilu

Kusulam bayang di tirai sepi, 
kurajut khayal dalam selaksa sunyi
Kurekat keping demi keping di tiap sisi.                                                          Lalu kubingkai sebagai lukisan di dinding hati.                                            
Pejam mata kutatap lukisan senja
Napaktilasi cerita di pendar cahaya
Menari ceria dalam duka
Dibawah hujan kusembunyikan luruh airmata

#tulisan iseng sambil menatap bulan setengah purnama# 
-ai-

Selasa, 26 September 2017

Dinihari, Setangkup Rasa dan Sebongkah Asa

Obrolan WA dengan seseorang sahabat (Jika saya boleh menyebutnya sahabat) sore tadi, membuka banyak pintu bilik kenangan yang pada akhirnya menghamparkan lembar perjalanan yang telah saya lalui.

Hidup, sejatinya adalah potongan mozaik. Bilah-bilah berbentuk tak beraturan yang kemudian terangkai seiring berlalunya masa. Yang kadang menjadi jelas setelah melompati waktu. Banyak peristiwa yang terangkai bukan sebagai sebuah kebetulan. Lalu, seperti sebuah irama ritmis yang menjadi alur untuk puzzle berikutnya. Ketika rangkaian itu terbaca pada masa jauh setelahnya, terkadang menghadirkan tawa tak kurang pula air mata.

Di dinihari selepas rutinitas (harusnya!) yang kadang terabai hingga berabad-abad karena lelap yang jauh lebih melenakan, sebentuk sadar menyusup perlahan. Sepahit apapun cerita kemarin ketika hati telah menerima, maka kepahitan itu bukan lagi rasa yang tidak enak. Apalagi jika menyadari bahwa kepahitan yang kita alami mungkin tidak seberapa besar dibanding kepahitan yang orang lain rasakan.

Bicara tentang rasa, ku mengingat penggal kata dari seseorang "Rasa tak bisa dihakimi".
Well sesaat saya setuju bahwa rasa memang tak bisa dihakimi. Hadir, menyusup tanpa harus membuka pintu. Namun jika rasa yang hadir itu mungkin saja akan menyakiti hati yang lain, Lalu  rasa tidak bisa dihakimi, haruskah rasa itu dipertahankan atau dinafikan?

Entah.. saat ini satu puzzle baru sementara menunggu keping selanjutnya untuk bisa terangkai. Entah puzzle berikut berarti bertahan dengan semua rasa dengan mengabaikan logika kemudian pasti menyakiti hati yang lain atau menafikan dengan pertimbangan logika yang pada akhirnya juga melukai hati sendiri.

Pada akhirnya waktu jualah yang akan menjadi teman berlari saling mengejar, dan pada satu titik puzzle itu akan nyata.

Saat ini cukup nikmati lalu bisikkan pada penguasa rasa untuk menunjukkanmu jalan menyikapi. Meneruskan dengan segala konsekuensinya atau berhenti sampai di sini kemudian Mencari puzzle lain yang mungkin lebih pas untuk melengkapi puzzle yang sudah ada. Hingga meski hatimu berbisik betapa munafiknya dirimu dengan semua balutan yang nampak di indera, setidaknya kau menemu setitik bahagia yang hanya dirimu dan Tuhanmu yang punya hak untuk menghakimi.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk dimengerti siapapun, hanya sepenggal dialog antara dua bilik hati... luve ^_*

Rabu, 30 April 2014

JANGAN PERNAH MENABRAK KARANG







Singkirkan inginmu menggeser karang,


Karena bahkan badai pun tak sanggup buatnya bergeming,

Biarkan dia tenang bersama damainya, 

Bercengkerama bersama ombak yang mengelilinginya,,

Membagi senyum Ke setiap kapal yang melaluinya,,

Redam nafsumu untuk putar haluan menabraknya,,

Karena kapalmu kan karam dengan sendirinya,, 

-ai-



Repost from my wall... 13 oktober 2012


Senin, 21 April 2014

RINDU YANG SIA SIA



Terlalu banyak rindu untukmu terbuang sia sia.. 



Seperti dandelion yang terbang terbawa angin.. 


Tak inginkah kau menangkapnya walau satu saja? 




-ai-
repost from my wall.... facebook.com/aninanrang

TENTANG KITA

Lupakan tentang kita,
Sekarang tentang mereka,
wajah-wajah tanpa dosa,
Yang tak perlu tahu kisah lara

Kubur cerita lalu,
sambut semerbak tunas baru,
bersama pasti seru,
bergandengan kita bersatu


repost from my wall facebook.com/aninanrang
#ketak ketik iseng di rapat bulanan, edisi bosan dengan topik#

LUKA ITU


Luka itu memang telah sembuh,
Bahkan di hitungan menit setelah kau lukai,
sayang,,
Bekasnya dihiasi sikatrik yang ternyata merapuh,
Yang akan selalu berdarah bila meregang,
meski hanya sekedar mendengar sesuatu tentangmu,
Antibiotik pun menjadi teman setia,
Menjaga renik dendam agar tak sempat berkembang,
Hingga tak perlu ada cerita tentang komplikasi pemberat




#Inspired by dr. Edwin @RS. Awal Bros Makassar tentang Sikatrik#